Selayang Pandang Kepala Sekolah
SMA Negeri 1 Tambun Selatan

Assalaamualaukum Warohmatullahi Wabarokaatuh,
Salam Pramuka,

SMA Negeri 1 Tambun Selatan sebagai lembaga pendidikan memegang peranan yang sangat penting di dalam proses menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul secara IPTEK maupun IMTAK di Kabupaten Bekasi pada khususnya. Berdiri sejak tahun 1984, SMAN 1 Tambun Selatan terus menerus melakukan peningkatan kualitas seluruh komponen sekolah dari sumber daya pengajar, manajemen sekolah maupun infrastruktur sarana dan prasaran sebagai pendukungnya.

 

Kabupaten Bekasi merupakan daerah yang langsung berbatasan dengan Ibu Kota Negara, dengan kondisi geografis tersebut maka pengaruh budaya, politik, keamanan dan ekonomi dalam perkembangannya baik langsung maupun tidak langsung... baca selanjutnya

Selamat Datang di Sistem Komunitas
SMA Negeri 1 Tambun Selatan

Member Login

SMA Negeri 1 Tambun Selatan
Jl. Kebon kelapa No.02 Tambun Selatan
Telp. (021)

-
Pencarian
Agenda
17 August 2017
M
S
S
R
K
J
S
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Jajak Pendapat
Apakah Layanan sekolah yang diberikan, sudah cukup memuaskan?
Sangat Memuaskan
Cukup Memuaskan
Kurang Memuaskan
  Lihat
Statistik
  Visitors : 801620 visitors
  Hits : 1502 hits
  Today : 162 users
  Online : 5 users
Waka Kurikulum: daryonoguntur
Waka Kesiswaan:
Waka Humas: agus.gusyana
Waka Sarpras:
Litbang: agus_bonlap

HAKEKAT PENDIDIKAN

Tanggal : 14-02-2014 08:26, dibaca 1004 kali.

Pendidikan sejati adalah orientasi hati.
Kecerdasan tidak bisa menjadi jaminan keberhasilan didalam pendidikan (tarbiyah).Betapa banyak orang mengeluh karena kenakalan seseorang yang cerdas. Ilmu yang memadai tidak bisa menjadi jaminan bahwa seseorang telah benar-benar mendapatkan tarbiyah.

Sebagian kaum yahudi yang 100% percaya bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah nabi yang akan diutus di akhir zaman (karena berita itu telah termaktub di dalam kitab suci mereka). Akan tetapi disaat tiba waktu kehadiran Nabi Muhammad SAW ditengah-tengah mereka tidak mudah bagi mereka untuk menerimnya. Itu bukan karena mereka tidak tahu kalau beliau itu adalah Nabi yang mereka nanti-nanti. Tetapi karena ada yang salah di dalam tarbiyah maka ilmunyapun tidak membantu mereka untuk menginsafi keberadaan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi. Kesalahan tarbiyah tersebut menyebabkan kekosongan hatinya dari sifat insaf dan akhirnya datang penggantinya sifat takabbur dan dengki kepada Nabi Muhamad SAW.

Medan tarbiyah adalah di dalam hati, dan karena tempatnya adalah hati sulit sekali untuk dideteksi penyakit-penyakitnya. Yang terlahir dari tindak-tanduk itu hanya pancaran dari apa yang ada di dalam hati. Tidak mudah bagi orang yang melihat pancaran itu untuk membedakan apakah itu pancaran yang sesungguhnya atau palsu.
Dua orang yang memakai baju yang sama, bisa saja yang satu berniat menutup aurat dan berdandan untuk bertemu dengan sahabat sementara yang satu lagi hanya untuk menuruti hatinya yang penuh kesombongan atau karena meniru model seorang terkenal dalam kemaksiatan.

Maka hakekat tarbiyah itu adalah membenarkan jalinan kita kepada Allah dan sesama manusia menuju esensi jalinan yang tertuang didalam kalbu. Pergeseran nilai secara perlahan sering terjadi didalam hati kita tanpa kita rasa namun tiba-tiba hati kita telah berubah dan subur oleh penyakit-penyakitnya. Seseorang yang merasa tawadhuk ternyata disaat itu ia telah tersungkur kedalam jurang ketakaburan. Yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain adalah orang yang telah mengalami krisis nilai tarbiyah yang drastis.

Oleh sebab itu para pakar tarbiyah yang sejati dalam terapi pengobatan penyakit hati di samping menyuruh para siswanya untuk sering mendengar wejangan-wejangan keruhanian tetapi mereka juga melatih siswanya mujahadah dan riyadloh ( memerangi hawa nafsu). Bahkan tarbiyah dengan terapi seperti ini lebih mereka dahulukan daripada ilmu itu sendiri. Sebab ilmu yang tidak dibarengi dengan tarbiyah yang benar hanya akan menjadikan hati penyandangnya semakin kotor.
Kesadaran seseorang akan kelemahan dirinya adalah kunci keberhasilan dalam tarbiyah. Bahkan tidak banyak artinya sejuta petuah bagi orang yang tidak merasa dirinya perlu kepada petuah. Intropeksi dengan selalu mewaspadai tercemarnya hati dari penyakit-penyakitnya adalah upaya menghadirkan sifat-sifat terpuji. Orang yang menginginkan tarbiyah akan selalu membuka hatinya untuk menerima apa saja yang menjadikan dirinya baik. Ia akan selalu melihat kebutuhan dirinya kepada resep-resep untuk menghilangkan penyakit-penyakit hati. Kesadaran yang ada dalam dirinya akan kebutuhanya terhadap resep itu adalah kunci keberhasilan. Ia tidak sibuk mencocok-cocokkan resep itu untuk orang lain. Menjadikan dirinya obyek utama yang dituju pesan-pesan moral adalah kesiagaan didalam menerima tarbiyah. Wallahu a'lam bishshowab.

 



Pengirim : Ahmad Rifai, S.Pd.I.
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas